PEMAHAMAN WILAYAH BENCANA

PEMAHAMAN WILAYAH BENCANA
SEBAGAI LANGKAH AWAL TANGGAP BENCANA
Oleh: Ade Masya Resa ( relawan RZI Jogja angkatan 8 )

Wilayah Negara Indonesia secara keseluruhan merupakan kawasan yang rawan berbagai bencana, baik bencana alam maupun bencana yang diakibatan oleh manusia, antara lain : berada pada pertemuan tiga lempeng tektonik raksasa, yaitu lempeng Eurasia, India, Australia dan Pasifik, yang mengakibatkan Tektonik dan Vulkanik aktif, sehingga intensitas dan frekuensi gempa sangat tinggi dan letusan gunung api sering terjadi (lebih kurang 128 gunung api aktif di Indonesia dan yang sewaktu-waktu dapat meletus). Secara geografis, Indonesia terletak di antara dua benua (Asia dan Australia) dan dua samudera (Hindia dan Pasifik), serta mempunyai dua musim, yaitu musim penghujan dan musim kemarau yang terkadang mempunyai kondisi ekstrem, sehingga bencana banjir, longsor dan kekeringan hampir setiap tahun terjadi.

Kondisi topografi wilayah di Indonesia juga yang sangat bervariasi, terutama pada daerah pegunungan dan perbukitan, sehingga terjadi perubahan suhu yang tegas, curah hujan dan kemiringan lerengan yang curam dan memungkinkan terjadinya angin ribut, banjir, kekeringan dan longsor. Indonesia memiliki lebih dari tujuh belas ribu (17 ribu) pulau besar dan kecil yang sebagian besar berhadapan dengan laut lepas (samudera) dengan garis pantai lebih dari 81.000 km sehingga sering terpengaruh oleh gelombang pasang termasuk tsunami. Bahkan perkembangan kota-kota besar di Indonesia pada mulanya mengikuti perkembangan kawasan pelabuhan yang notabenenya merupakan kawasan pantai yang berpotensi tsunami. Komposisi penduduk Indonesia pun yang terdiri dari berbagai suku, agama, ras dan adat istiadat sangat berpotensi terjadinya konflik. Telah terjadi beberapa kali konflik yang erat kaitannya dengan SARA, antara lain Ambon dan Sampit yang tentunya tak lepas dari ingatan kita yang menimbulkan banyak korban harta dan jiwa.

Kondisi yang rawan bencana tersebut tentunya membuat kita harus lebih siap dan mempersiapkan diri dalam rangka mitigasi bencana. Namun, seandainya bencana tersebut telah terjadi, tentunya akan ada berbagai tindakan dari berbagai tim maupun relawan siaga bencana. Sebelum diambil tindakan dalam upaya penanggulangan bencana, tentunya perlu ada kejelasan informasi mengenai bencana tersebut, antara lain apa bencananya? Siapa dan berapa banyak korban? Dimana terjadinya? Kapan terjadinya? Dampak yang ditimbulkan seperti apa? Dan upaya apa saja yang telah dilakukan oleh berbagai tim penanggulangan bencana yang ada, baik pemerintah maupun swasta? Tentunya pertanyaan-pertanyaan di atas memerlukan jawaban-jawaban yang akurat. Oleh karena itu perlu didukung dengan data dan informasi yang akurat guna menentukan tindakan yang tepat mengenai hal apa saja yang perlu dilakukan dalam tanggap darurat, evakuasi, bahkan sampai ke tahap rehabilitasi pasca bencana.

Data merupakan bentuk jamak dari kata datum yang berarti informasi, fakta, kejadian. Dalam konteks kebencanaan, peran data sangat penting, antara lain :
(1) Sebagai sumber informasi dan dokumentasi kebencanaan, ex: lokasi darurat, luas daerah bencana, jumlah korban, data kerusakan, dsb.
(2)Membantu dalam pemahaman terhadap wilayah bencana, yang bertujuan untuk : Mencari daerah aman, untuk lokasi posko serta tempat penampungan dan evakuasi, Memetakan potensi lokal untuk pemenuhan kebutuhan dalam keadaan darurat, terutama pangan dan sumber air, Memetakan kawasan rawan serta berpotensi untuk terjadi bencana susulan, Untuk menyusun strategi penyelamatan dalam tanggap darurat, evakuasi maupun penampungan, Mencari jalur untuk distribusi bantuan, dll.

Pengumpulan data tentang kawasan bencana memegang peranan yang sangat penting guna menentukan langkah yang tepat dalam rangka tindakan tanggap bencana. Mengingat peran penting dari data tersebut, perlu pemahaman yang jelas dari para pelaku tim tanggap bencana mengenai metode dan teknik pengumpulan data demi menunjang ketepat-sasaran dalam penanganan bencana. Pengumpulan data dan informasi ini dilakukan secara terus-menerus, baik sebelum terjun ke lokasi bencana, pada saat tiba di lokasi bencana bahkan sampai selesai tugasnya di lokasi tersebut. Dalam hal ini akan dibahas mengenai 2 pendekatan dalam pengumpulan data, yaitu RRA (Rapid Rural Appraisal) dan PRA (Participatory Rural Aprraisal).

Rapid Rural Appraisal (RRA)
RRA adalah aktivitas yang sistematis, tetapi cukup terstruktur, yang dilakukan di lapangan oleh sebuah tim dan dirancang untuk secara cepat mendapatkan informasi atau hipotesa tentang kehidupan di suatu desa (wilayah bencana) tanpa melibatkan masyarakat secara aktif, masyarakat diposisikan sebagai objek, bukan sebagai subjek. RRA dikembangkan pertama kali di Universitas Khon Kaen, Thailand pada tahun 1980an dan diterapkan di beberapa Negara di Asia Tenggara dan mulai tahun 1985 menjadi referensi standar internasional.

Metode ini merupakan cara yang cepat dan murah untuk mengumpulkan informasi mengenai suatu wilayah, dalam hal ini wilayah bencana. Pada saat berada di lokasi bencana, tentunya tim penanggulangan bencana memerlukan data dalam waktu yang singkat untuk mengambil langkah tanggap daruratnya.
Pada umumnya, dalam memperoleh data dengan metode RRA dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain :
a. Wawancara Informan Kunci (Key Informant Interview). Wawancara ini terdiri serangkaian pertanyaan terbuka yang dilakukan terhadap individu-individu tertentu yang sudah diseleksi karena dianggap memiliki pemahaman terhadap wilayah bencana. Wawancara bersifat kualitatif, mendalam dan semiterstruktur.

b. Diskusi Kelompok Fokus (Focus Group Discussion). Diskusi kelompok dapat melibatkan 8-12 anggota yang telah dipilih berdasarkan kesamaan latar belakang. Peserta diskusi bisa dari elemen tim penanggulangan bencana yang ada.

c. Wawancara Kelompok Masyarakat (Community Group Interview). Wawancara difasilitasi oleh serangkaian pertanyaan yang diajukan kepada semua anggota masyarakat dalam suatu pertemuan terbuka. Wawancara ini dapat dilakukan kepada masyarakat yang berada di wilayah bencana.

d. Pengamatan Langsung (Direct Observation). Melakukan kunjungan lapangan atau pengamatan langsung terhadap masyarakat setempat. Data yang dikumpulkan dapat berupa informasi mengenai kondisi geografi, kawasan aman, sumber air dan sumber pangan yang ada di lokasi yang dapat dimanfaatkan dalam keadaaan darurat, dan sebagainya.

e. Survey Kecil (Mini-Survey). Penerapan kuesioner terstruktur (daftar pertanyaan tertutup) terhadap sejumlah kecil sample (antara 50-75 orang). Pemilihan responden dapat menggunakan teknik acak (random sampling) ataupun sampel bertujuan (purposive sampling). Namun untuk teknik suvey kecil ini cukup sulit diterapkan pada kondisi bencana.

Dalam perkembangannya, RRA masih dianggap sebagian orang sebagai ”penggalian informasi” yang mana prosesnya masih satu pihak, seperti pada metode kuesioner yang sebenarnya ingin dihindari karena hanya sedikit atau bahkan tidak ada masukan balik ke responden dan semua informasi dimiliki dan dikendalikan oleh peneliti. Sehingga pada tahun 1980-an, sebuah gagasan berbentuk partisipasi mulai diperkenalkan yang menyebabkan perubahan RRA menjadi PRA (Participatory Rural Appraisal).

Participatory Rural Appraisal (PRA)
Metode PRA (Participatory Rural Appraisal) ini merupakan alat pengumpulan data yang sangat berkembang desawa ini. PRA terfokus pada pertukaran informasi dan pembelajaran antara pengumpul data dan responden. PRA dapat diartikan sebagai metode pengumpulan data yang dilakukan oleh perorangan maupun tim untuk mendapatkan informasi mengenai suatu wilayah atau kawasan yang masyarakat dilibatkan secara aktif dan diposisikan sebagai subjek. Dalam pelaksanaan proses PRA ini memerlukan waktu yang relatif lama bila dibandingkan dengan RRA.

Metode ini biasanya menggunakan teknik-teknik visual (penggunaan tanaman, biji-bijjan, tongkat) sebagai alat penunjuk pendataan sehingga memudahkan masyarakat biasa (bahkan yang buta huruf) berpartisipasi. PRA memiliki banyak sekali teknik, antara lain Lintas Kawasan, Jenjang Pilihan dan Penilaian, Jenjang Matrik Langsung, Diagram Venn, Jenjang Perbandingan Pasangan (suharto, 1997; 2002; Hikmat, 2001).

Orientasi PRA adalah untuk memfasilitasi atau meningkatkan kesadaran masyarakat dan kemampuan mereka untuk menangkap isu atau persoalan. Perhatian khusus dilakukan agar masyarakat lokal dapat melakkan analisi secara mandiri serta menyampaikan pengamatannya. Peran peneliti menjadi katalis, bukan sebagai ahli. Peningkatan kesadaran dan pengetahuan masyarakat lokal ditujukan untuk memberdayakan masyarakat sehingga PRA sejalan dengan konsepsi dasar tentang pembanunan berkelanjutan (pemberdayaan masyarakat lokal, persamaan, dan keadilan sosial). Pada dasarnya PRA ini tidak hanya dilakukan di desa, tetapi juga di perkotaan, dan bila dikaitkan dengan bencana, kawasan bencana tidak terbatas pada wilayah administrasi.

Dalam menggali potensi dan permasalahan yang ada dalam suatu wilayah terdapat tiga langkah penerapan PRA, yaitu :
1. Persiapan
Kegiatan persiapan meliputi pelatihan, membentuk Tim PRA, menetapkan tujuan PRA, membentuk desain kegiatan PRA, dan melakukan kunjungan awal.

2. Pelaksanaan PRA
Setelah semua kegiatan persiapan PRA selesai dilakukan, Tim berkunjung ke lapangan untuk memulai kegiatan PRA yaitu, pembahasan, maksud, tujuan, dan proses PRA, diskusi penggalian informasi, pencatatan hasil diskusi, mempresentasikan hasil diskusi, dan menyusun rencana program.

3. Tindak Lanjut
Rencana program yang telah dibuat bersama masyarakat ditindaklanjuti di dalam pelaksanaannya.

Chambers (1994) dan Conway dan McCracken (1990) mengidentifikasi beberapa metoda yang seringkali digunakan secara kombinasi dalam PRA, yaitu:
1. Sumber-sumber sekunder; berupa buku, jurnal, laporan, peta, dokumen, memorandum, hasil survei, laporan tahunan, dokumen resmi, sensus, koran dan majalah. Dalam konteks bencana, misalnya sumber dari pemerintah, tim penanggulangan bencana yang sudah turun, maupun sumber-sumber lainnya.

2. Interview atau wawancara setengah terstruktur. Metode ini dianggap metode utama PRA. Wawancara dapat dilakukan pada perorangan maupun kelompok baik kepada masyarakat, pemerintah, maupun elit lokal pada kawasan bencana. Wawancara dilakukan secara tidak resmi, sebaiknya di lingkungan mereka sendiri. Kuesioner tertulis tidak digunakan, tetapi catatan kecil digunakan untuk mencatat gagasan utama yang muncul selama wawancara. Wawancara dilakukan atas dasar beberapa pertanyaan kunci yang dianggap penting.

3. Diskusi Kelompok Fokus (Focus Group Discussion). Diskusi kelompok dapat melibatkan 8-12 anggota yang telah dipilih berdasarkan kesamaan latar belakang. Bedanya dengan FGD pada RRA adalah pelibatan masyarakatnya sebagai peserta FGD. Tim penanggulangan bencana hanya memfasilitasi FGD agar tidak menyimpangdari hasil yang diharapkan.

4. Observasi langsung; dilakukan untuk mengamati kejadian, proses, hubungan dan pola secara sistematik. Metode ini mirip dengan participant observation. Observasi langsung dilakukan untuk mengecek atau mendapatkan gambaran langsung mengenai kebencanaan tersebut dari sumber sekunder ataupun wawancara.

5. Model-model visual; model ini semakin banyak digunakan terutama dalam kondisi adanya perbedaan budaya, di mana responden memiliki pendidikan resmi yang terbatas. Model visual memanfaatkan berbagai bentuk diagaram, sketsa, peta, kalender musim, serta berbagai bentuk visual lain yang memungkinkan masyarakat dan fasilitator melakukan diskusi bersama. Beberapa alat bantu yang digunakan dalam metode ini di antaranya kertas plano, kertas manila/ kertas metaplan, meteran, spidol, peta wilayah, selotip, double tip, dll.

1 Komentar (+add yours?)

  1. Febry
    Mar 25, 2009 @ 16:24:57

    Tetap Semangat!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: