Islam adalah Candu

Kalo nggak salah, Karl Marx pernah bilang, agama adalah candu. Itu karena dia melihat realita yang ada di Eropa waktu itu. Kaum agamawan begitu dominannya, sehingga mereka menindas kaum lemah dengan legalisasi agama. Ada yang berpendapat, ucapan itu memiliki konteks yang sangat khusus. Ucapan itu sebenarnya ditujukan untuk para pendeta petinggi agama Kristen. Karena mereka adalah bagian dari sistem yang menindas rakyat. Seperti di Prancis misalnya. Kebanyakan Marxis lebih setuju keumuman lafadz daripada kekhususan sebab perkataan itu. Oleh karena itu, biasanya mereka juga adalah atheis. Saya melihat, Islam sendiri, ternyata juga merupakan candu.

 Kenapa saya bilang begitu? Candu menurut definisi saya adalah pembius. Semacam sesuatu yang mempengaruhi jiwa seseorang, agar dia bisa melupakan kenyataan yang terjadi. Kayak narkoba, meringankan fikiran dan melarikan diri dari kenyataan. Ketika narkobanya habis, pencandu kembali kepada kenyataan yang keras dan pahit. Ketika itu terlalu menyakitkan buat pencandu, maka dia akan segera mencari candu yang baru, agar semua rasa sakit yang terlalu nyata itu hilang. Tetap saja, kenyataan adalah kenyataan. Masalah tetaplah masalah. Melarikan diri dari kenyataan, tidak akan menyelesaikan masalah. Candu adalah alat untuk melarikan diri dari kenyataan. Sedangkan lawan dari candu adalah solusi. Karena dia menyelesaikan masalah dengan sebenar-benarnya, bukannya membuat seseorang melarikan diri darinya. Dalam konteks inilah saya berpendapat, sebenarnya, Islam itu sendiri juga candu. 

Islam adalah candu, ketika dia digunakan untuk melegalisasi pemerintahan. Menonjol-nonjolkan akhlaq mulia terhadap pemimpin, memuliakan pemimpin secara berlebihan, dan mencela setiap kritik yang diungkapkan dengan niat baik. Ulama berperan besar dalam candu jenis ini, dan candu jenis-jenis yang lain. Merekalah distributor utama candu yang bernama Islam ini. Mudah saja mereka berkata, harus taat pemerintah, walaupun mereka dholim. Jangan bughat, kalo mereka masih Islam. Padahal, mereka terang-terangan merusak Islam. Itu wajar saja. Biasanya, ulama-ulama tersebut sangat dekat dengan pemerintahan, dan mereka diuntungkan dengan pemerintahan tersebut. Biasanya berkaitan dengan penyebaran agama mereka. Islam jadi candu, karena ummat dilarikan dari solusi yang sesungguhnya, yaitu memperbaiki pemerintahan. Ummat dihibur dengan kata-kata indah tentang wajibnya taat pada pemimpin, disebutkan pula keutamaan-keutamaan mereka, kemudian mereka diancam dengan dosa melanggar perintah Allah, karena tidak taat pada pemimpin. Padahal, melegalisasi tidak akan menyelesaikan masalah kebijakan yang dholim. Itu hanya akan mencegah ummat menciptakan gejolak. Kebijakan itu, tetap saja mendholimi mereka. Karena itulah Islam adalah candu. 

Islam jelaslah merupakan candu, ketika para penganutnya tidak peduli terhadap orang lain. Mereka sholat wajib dan sholat sunnah. Mereka juga shaum sunnah. Mengkaji Islam 2 kali sepekan. Menghafal beberapa juz dari Al-Qur’aan. Di rak bukunya, berderet buku-buku karya ulama-ulama terkenal. Hanya saja, mereka tidak mau tahu ketika ada tetangga yang meninggal. Tidak mau tahu ada tetangganya yang tiap hari ditagih hutang, dan tidak pernah bisa membayar. Tidak pernah ambil pusing terhadap penjual miras sepuluh meter dari rumahnya. Bahkan, mereka tidak peduli ketika tetangga samping rumah membunuh istrinya dikarenakan rasa cemburu. Mereka sudah merasa puas ketika mereka bisa menikmati Islam itu sendirian. Di rumahnya. 

Islam jadi candu, ketika penganutnya hanya sekedar menikmatinya saja. Ketika Islam dianggapnya sebagai makanan. Fikirannya dipenuhi oleh Islam, tapi amalnya kosong. Tiap hari berdebat dengan orang lain masalah-masalah remeh. Tiap hari membahas hal-hal kecil. Merasa puas setelah mempelajari hal yang sulit, tapi tidak pernah mengajak dan mengajarkan kepada orang lain hal yang lebih penting dan mendasar. Selalu sibuk menjelek-jelekkan orang lain yang tidak sefaham dengannya. Ketika diajak berdakwah, mereka berdalih, ilmu saya belum nyampai. Dakwah itu harus pake ilmu. Padahal mereka hafal setiap hadits tentang sholat dan wudhu. Juga hafal beberapa juz Al-Qur’aan. Merasa senang dan puas setelah ber-jidal dengan orang lain. Apalagi jika dia menang. 

Islam menjadi candu, ketika penganutnya mengkastakan dirinya. Ketika mereka membagi ummat menjadi kelas-kelas. Santri-abangan-priyayi ataukah kyai-murid ataukah ulama-awam. Mereka patuh kepada ulama tanpa syarat, sebab ulama adalah orang yang di atas rata-rata menurut mereka. Just Do It. Sami’na wa atho’na. Seolah-olah, ulama itulah Rasulullah. Yang kayak begini merupakan candu, karena mereka dilarikan dari kewajiban sebenarnya, untuk memahami agama mereka sendiri. Mereka seolah-olah lupa, bahwa seseorang dilarang mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan. Taqlid jadi semacam keharusan, walaupun mereka mampu berijtihad. Percaya kalo matahari mengelilingi bumi adalah keharusan, walopun itu jelas-jelas bertentangan dengan fisika modern. Seolah-olah, mereka tidak pernah belajar fisika sama sekali. Mereka membabi-buta mengikuti ulama mereka, tanpa mau tahu apakah ulama tersebut punya ‘ilmu terhadap apa yang dikatakannnya. 

Semua ini tak akan terjadi, ketika Islam tidak hanya dijadikan pelipur lara. Penghibur di kala kesusahan. Islam tidak akan menjadi candu, ketika dia mendorong terciptanya solusi. Solusi-solusi dari masalah ummat. Sistem Ekonomi Syari’ah sebagai pengganti Sistem Ekonomi Ribawi adalah solusi. Zakat Profesi adalah solusi. Mengingatkan penguasa yang dholim adalah solusi. Kepedulian adalah solusi. Mau berfikir adalah solusi. Romantisme kejayaan Islam bukanlah solusi. Begitu juga sekedar bersikap sabar bukanlah solusi. Kemiskinan tidak akan bisa hilang hanya dengan sekedar istighfar dan ibadah mahdhah. Tapi, dengan perbaikan yang berupa amal nyata. Begitu juga, onani intelektual dengan buku-buku dan diskusi-diskusi bukanlah solusi. Karena dia hanya memikirkan, tapi tidak beramal. Inilah candu-candu Islam itu. Kalo, kita bisa menghilangkannya, alangkah bahagianya kita sebagai pemeluk Islam. Kita adalah solusi, disebabkan karena, kita menghadapi masalah yang nyata, memikirkannya, menemukan jawabannya, kemudian menyelesaikan masalahnya.

1 Komentar (+add yours?)

  1. ayuk fajar
    Feb 02, 2009 @ 09:40:59

    hmmm…
    subhanallah. ayuk sepakat dek. trus menulis yaaa… kokohkan peradaban ini dng menulis dan berdasar pada fakta. be crtical😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: