Hargai Keberagaman Budaya Indonesia?

Pornografi dan pornoaksi adalah hal yang bertentangan dengan syariat Islam. Dengan adanya gagasan untuk mengembangkan Undang-undang (UU) yang mengatur masalah tersebut merupakan langkah yang positif bagi perkembangan moral bangsa. Apa lagi selama ini, moral bangsa Indonesia secara khusus, dan moral manusia di seluruh permukaan bumi ini secara umumnya telah menampakkan degradasi moral. Walau pun tidak semuanya seperti itu, akan tetapi sebagian besarmanusia mengalami hal semacam ini, Degradasi Moral. Untuk menghindari dan meminimalisir atau bahkan kalau bisa menghilangkan gejala degradasi moral tersebut harus diperjuangkan. Usaha tersebut telah nampak dengan adanya gagasan undang-undag tentang pornografi dan pornoaksi tersebut yang lebih kita kenal dengan Rancangan Undang-Undang Anti-Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP). Akan tetapi seiring dengan munculnya wacana RUU APP tersebut, mulai ada opini, kritik, komentar mengenai undang-undang tersebut baik yang mendukung (pro) maupun yang menolak (kontra).

Mereka, yang menyatakan dirinya dari Aliansi Bhineka Tunggal Ika, mengungkapkan bahwa masalah pornografi dan pornoaksi merupakan bagian dari moral yang  sangkut-pautnya dengan agama. Akan tetapi menurut mereka, RUU APP bukanlah wilayah agama, akan tetapi wilayah kebangsaan dan identitas bangsa. Akan tetapi, menurut pendapat saya, agama dan pemerintah tidak bisa dipisahkan. Jika pemerintahan dipisahkan dari agama, maka seperti apa jadinya nanti, moral negara akan rusak karena tidak adanya kontrol dari agama. Hal ini memang merupakan usaha kaum yang tidak senang ditetapkannya syariat Islam dimuka bumi. Seperti yang diucapkan oleh seorang tokoh nasrani pernah berkata, “Apabila umat Islam bersatu dalam Kerajaan Arab, maka akan menimbulkan malapetaka bagi dunia Eropa”. Dari pendapatnya tersebut dapat diartikan bahwa mereka mencemaskan dengan kebangkitan Umat Islam untuk membentuk Khilafah Islamiyah yang dahulu pernah berjaya dan telah susah payah mereka hancurkan. Mereka selalu berusaha dan berupaya jangan sampai kejayaan Islam bangkit lagi.

Jika RUU APP tidak segera disahkan, mau jadi seperti apa bangsa Indonesia ini. Apakah akan dijadikan seperti bangsa-bangsa di Eropa atau Amerika yang mana moral masyarakatnya mayoritas, maaf, bejat. Perzinaan terjadi di mana-mana. Hubungan suami-istri di luar nikah, mempunyai anak tanpa nikah, free sex menjadi hal yang biasa di mata anak muda di sana. Bahkan ada rumor yang menyatakan, seorang remaja yang belum merasakan “kenikmatan” sex di luar nikah belumlah menjadi seorang remaja sejati. Na’udzubillahimindzalik. Dengan alasan kebebasan bertindak dan berpendapat atau dengan tameng HAM sekaligus mereka melakukan semua kebejatan ini. Apakah generasi muda seperti inikah yang kita harapkan untuk bangsa Indonesia yang akan datang.

Berbicara masalah budaya bangsa Indonesia, cara berpakaian bangsa Indnesia dahulunya dapat dikatakan cukup sopan, walau belum sepenuhnya menutupi aurat. Padahal sebelum tahun 1980-an, orang-orang masih tabu untuk menggunakan pakaian yang serba seksi, tidak nyentrik seperti sekarang dan sepertinya tidak kekurangan bahan deh (kekecilan dan transparan), tapi kenapa sekarang malah gak sreg kalau tidak seperti itu. Sepertinya malah berlomba-lomba untuk mempertontonkan auratnya masing-masing. Bukankah ini telah terjadi perubahan. Apakah perubahan seperti ini harus tetap dibiarkan begitu saja, bahkan jangan-jangan suatu saat nanti bukanlah hal yang tabu bagi masyarakat Indonesia untuk tidak menggunakan pakaian sehelai pun. Na’udzubillahimindzalik.

Penolakan penegakan RUU APP menurut mereka tidak tepat, seharusnya hal yang dilakukan negara adalah pengaturan “penyebaran” barang-barang pornografi dan bukannya mengatur soal moral dan etika. Akan tetapi , apabila cuma diatur sebatas barang-barang pornografi seperti majalah, VCD, gambar, dan lainya belum tentu menjadi jaminan akan berhasil Memberantas suatu permasalahan haruslah sampai ke akar-akarnya agar tidak memunculkan bibit baru. Pemberantasan pornografi dan pornografi harus komprehensif, tidak setengah-setengah, tapi menyeluruh. Mereka menyangsikan keberhasilan RUU APP ini. Memang, keberhasilannya belum tentu berhasil 100%. Akan tetapi ini merupakan bentuk tawakal manusia, berusaha dan berdo’a. Bentuk usaha untuk memberantas pornoaksi dan pornografi. Keberhasilannya tidak terlepas dari izin Allah swt. Tapi ini merupakan usaha manusia untuk menegakkan syariat-Nya.

Penolakan RUU APP ini yang dengan alasan untuk mempertahankan Indonesia yang jelas-jelas memiliki dasar negara, UUD, Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika merupakan berntuk kekalahan kita dalam masalah perang pemikiran (ghozwul fikri). Penyebaran faham nasionalisme telah menutupi mata mereka yang menomorsatukan negara di atas segala-galanya. Hal ini tujuannya untuk menjauhkan agama dari urusan kenegaraan di samping untuk memecah belah umat Islam dengan tameng bukan sebangsa. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: